jump to navigation

Buon Campleano Rossoneri (selamat ulang tahun ac milan)!!! December 16, 2009

Posted by ekazusan in Uncategorized.
trackback

Kata ‘abdi’ sebagai kata dasar ‘pengabdian’ mengandung makna setia (faithful). teguh (firm).dan kehormatan (honorary). Ada yang harus diperjuangkan dalam pengabdian. Pengabdian bukan ruang ‘kosong’ yang hanya menunggu sampai terisi sendiri ruang itu.

Pengabdian adalah kata kunci bagi klub kebanggan kita AC MILAN. Milan dalam sejarah sepakbola, bukan sekadar membangun sepakbola sebagai hiburan yang membanggakan penggemarnya. Alfred Edwards ketika mendirikan Milan, bukan semata-mata untuk hiburan yang mendatangkan uang atau membangun korporasi besar klub yang satu-satunya membanggakan kota Milan (sekali lagi: satu-satunya!). Sir Edwards ingin menanamkan ‘passion’ atau hasrat dalam sepakbola. Bahwa para pemain Milan harus bertarung meraih kemenangan bak gladiator, tetapi memiliki kesetiakawanan yang tangguh. Ya, setia kawan adalah dasar Sir Edwards mendirikan dan membangun AC MILAN.

Sepakbola dalam rentetan sejarah selalu menjadi penanda. Khususnya dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat dan kemanusiaan. Milan pun mengisi ruang sepakbolanya dengan kemanusiaan. Tercatat beberapa pemain Milan yang masih aktif pun yang sudah pensiun mendonasikan dananya untuk kepentingan sosial. Gatusso yang terkenal garang di lapangan, malah menjadi pemimpin untuk sebuah yayasan yang membantu penduduk di wilayah Calabria, untuk membantu kota kelahiran Gatusso itu lebih layak dihidupi warganya. Ini bukan soal pamer uang atau kekuasaan.Tetapi soal nilai-nilai yang pada awalnya ditanamkan oleh ‘leluhur’ Milan, Sir Edwards.

Kekeluargaan, adalah nilai berikutnya yang sudah menjadi karakter Milan sebagai satu keluarga yang penuh cinta. Bila di klub lain,ruang ganti itu bak horor yang dihindari karena harus menjadi biang kekesalan pelatih, pengurus sepakbola, atau bahkan teman sendiri, di Milan, justru para pemain, pelatih,bahkan pengurus sepakbola sangat merindukan suasana ruang ganti.

Silahkan orang lain berpendapat bahwa Milan mengasuh ‘pemain veteran’. Tetapi tanyakan kepada orang yang berpendapat seperti itu,mengapa justru banyak pemain Milan selalu ingin mengakhiri karir di klub Milan? Ada 2 alasannya: Milan melihat kemampuan dan kematangan skill bukan asal pemain muda yang menjadi pertimbangan, namun efektif dan tentu saja efiseiensi dalam soal dana. Tak bisa dimungkiri, krisis global membuat klub harus berpikir ulang untuk mendatangkan pemain berkelas, namun belum tentu bisa memberikan bukti bagi Milan. Jika sudah tua namun masih bisa memberikan yang terbaik,akan diberi jalan terbuka oleh Milan.

Kedua, Milan adalah sebuah keluarga yang penuh cinta. Fernando Redondo merasakan hal itu ketika saat cedera panjang justru kontraknya masih dipertahankan sampai sembuh. Ini yang membuat Redondo sempat merasa segan karena dia merasa ‘makan gaji buta’ di Milan. Tengok juga Si Fenomena Ronaldo. Di klub lain, begitu cedera dia langsung dibuang. Di Milan, cedera tak membuat Ronaldo diputus kontraknya. Bila kita jeli (ini memerlukan penelitian khusus) rata-rata kontrak pemain di Milan, diakhiri bukan dengan cara ‘dibuang karena cedera’ tetapi umumnya karena keinginan pemain. Pun demikian dengan contoh soal Sheva dan Kaka. Dalam kasus Kaka, memang pengurus mengijinkan,tetapi sekali lagi semuanya tergantung pada pemain itu. Cafu pun demikian, dia sangat respek terhadap Milan, yang selalu mempercayakan dirinya untuk terus bermain.Dan keputusan mundurnya itu karena kesadaran diri, bahwa di sudah memberikan yang terbaik bagi Milan.

Tentang gelar juara, tidak perlu dipertanyakan lagi sebab Milan adalah tim yang punya nama tengah ‘juara’. Tabloid BOLA beberapa waktu lalu menjuluki MILAN sebagai RAJA MUDA EROPA. Raja Tua-nya adalah Madrid, yang meraih juara Champion, di bawah tahun 80an. Perhatikan juga Sir Alex Ferguson yang selalu mengagumi Milan, bahwa Milan menurutnya, tahu cara meraih juara, bahkan di saat banyak orang meragukan kemampuannya. Dan Pep Guardiola pun mengerti dan memahami, Milan adalah klub dengan pesona juara.

Tepatlah bila ‘tagline’ di hari istimewa Milan, 16 Desember 2009 diberi tajuk: Milan 110 with honours: 110 years of Rossoneri emotions and triumphs!


110 tahun adalah bukan masa pendek untuk membangun keluarga bernama Milan.

110 tahun adalah penuh kehormatan dan perjuangan bagi Milan.

110 tahun adalah karya yang tak pernah luntur, selalu tertanam dalam sejarah Milan.

Pastilah ada karakter yang merekatkan tiga pilar penopang Milan: Pemain, Pengurus, dan Milanisti!
Karakter yang harus kita teladani dari klub kebanggaan kita: Kesetiakawanan, Cinta kasih, dan Juara!!

Kita adalah penggemar sejati Milan.
Milanisti adalah penggemar yang cerdas, dan bisa membuktikan bahwa di antara kita nilai-nilai setia kawan-cinta kasih-dan juara, harus tertanam.



Milanisti bukan sekumpulan penggemar kutu loncat, menyukai Milan di saat jaya, menghinanya di saat rapuh.Tidak! Sebab sekali lagi Milanisti ada, eksis, terus menerabas masa depan, dengan karakter-karakter tangguh Milan!!

Kalau kita Milanisti sejati: buktikan: dalam kehidupan yang kita jalani, kita memiliki mental: SETIA KAWAN, CINTA KASIH, dan punya mental JUARA!!!

Buon compleanno Milan….FORZA MILAN! MILAN TU SEI TUTTA LA MIA VITA!!!


(Selamat Ulang Tahun Milan …. FORZA MILAN!Kamu Adalah Hidupku)!!!

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.